PERANG YARMUK DAN PENGARUHNYA TERHADAP TAKTIK DAN STRATEGI PERANG DI MASA SESUDAHNYA
# fajar purwawidada
1.
PENDAHULUAN
Perang Yarmuk merupakan perang antara muslim Arab dan kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Pertempuran ini oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena menandakan gelombang besar pertama kalinya penaklukan muslim di luar Jazirah Arab dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia.
Perang Yarmuk tidak terlepas dengan tokoh Panglima Perang muslim Khalid Bin Walid yang dikenal karena taktik militer dan kecakapannya dalam bidang militer. Ia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya memimpin pasukan Madinah.
Pada saat di bawah kepemimpinan militernya di Jazirah Arab, untuk pertama kalinya dalam sejarah dapat dipersatukan dalam satu entitas politik yaitu Kekhalifahan. Khalid memimpin pasukan muslim, yang tidak pernah dikalahkan dalam lebih dari 100 pertempuran melawan Kekaisaran Byzantium, Kekaisaran Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka termasuk juga suku-suku Arab di luar kekuasaan Khalifah.
Pencapaian strategis yang diraih ialah penaklukan Arab selama Perang Riddah Persia, Mesopotamia dan Suriah Romawi hanya dalam waktu empat tahun yaitu pada tahun 632-636. Khalid juga dikenang karena kemenangan telaknya pada Pertempuran Yamamah, Pertempuran Ullais, dan Pertempuran Firaz, dan kesuksesan taktiknya pada Pertempuran Walaja dan Pertempuran Yarmuk.
Di bawah komandonya, Damaskus ditaklukan pada tahun 634 dan kunci kemenangan Arab melawan pasukan Kekaisaran Byzantium dicapai pada Pertempuran Yarmuk tahun 636 yang menyebabkan penaklukan Bilad al-Sham (Levant).
Selanjutnya
permasalahannya yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimanakah perang
Yarmuk berpengaruh terhadap taktik dan strategi perang di masa sesudahnya?
- PEMBAHASAN
a.
Kesiapan Perang
Dalam menyusun strategi dan taktik pada perang Yarmuk Panglima Khalid menyiapkan batalyon yang kuat, yang terdiri dari para Komandan pilihan. Seperti al-Qa'qa' bin Amr at-Tamimi, Dharar bin al-Khattab, Dharar bin al-Azwar, Ashim bin Amr, dan lain-lain. Sampai akhirnya terkumpullah 10.000 pasukan berangkat menuju Syam.
Kecerdasan strategi militer Panglima Khalid dalam Perang Yarmuk telah tampak pada caranya memilih jalan menuju Lembah Yarmuk. Ia memilih melewati gurun-gurun yang bergelombang dan memiliki sumber air yang langka sehingga pergerakan pasukan tidak mencolok. Kontur tanah bergelombang menyembunyikan (Lindung tinjau) pasukan dari penglihatan. Sementara sumber air langka membuat orang-orang jarang tinggal atau melewati tempat tersebut, sehingga kerahasiaan pasukan bantuan tetap terjaga. Tentunya strategi ini membutuhkan pengenalan detail terhadap kondisi alam (menguasai kondisi medan).
Panglima Khalid mendiskusikan rencana dukungan logistik terutama bagaimana solusi kebutuhan air pasukan. Penunjuk jalannya, Rafi' bin Amirah menyarankan agar semua pasukan membawa air sekemampuan mereka masing-masing. Sedangkan kuda-kuda mereka disiapkan sumber air sendiri. Mereka membawa 20 ekor onta yang besar. Onta-onta meminum air yang banyak, kemudian pada saatnya nanti mereka disembelih dan dimanfaatkan simpanan air di tubuh mereka untuk kuda-kuda yang kehausan. Sedangkan dagingnya dimakan oleh pasukan.
Khalid membangkitkan moril perang dengan memotivasi pasukannya dengan mengatakan bahwa Kaum muslimin, jangan biarkan rasa lemah menjalari kalian, dan rasa takut menguasai kalian. Ingatlah, pertolongan Allah itu datang tergantung dengan niat. dan besarnya pahala itu tergantung pada kadar kesulitan. Seorang muslim wajib untuk tidak khawatir terhadap sesuatu, selama Allah menolong mereka. Rute perjalanan pasukan Khalid adalah Qarqarah Suwa, Arch, Palmyra, al-Qaryatayn, Huwwarin, Marj Rahit, Bosra, dan tujuan terakhir Yarmuk. Pasukan ini berjalan melintas padang pasir di saat malam, pagi, dan menjelang siang. Alasannya karena di waktu-waktu tersebut cuacanya tidak panas. Selain menghemat energi, cara ini juga menjaga penggunaan air agar tidak boros (efisiensi).
b.
Strategi Perang Yarmuk
Sebelum tiba di Yarmuk, pasukan Khalid bertemu dengan pasukan Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Amr bin al-Ash, dan Syurahbil bin Hasnah di Ajnadayn. Kemudian para panglima itu berkumpul dan berdiskusi tentang strategi untuk menghadapi jumlah pasukan musuh sekitar 240.000 orang, sedangkan total pasukan Khalid sebanyak 46.000 orang.
Setelah memahami gagasan-gagasan Panglima yang lain dan mengetahui bahwa pasukan Romawi bersatu di bawah komando Theodoric, Khalid memantapkan pilihan menyatukan pasukan muslim di bawah satu komando pula. Strategi ini juga menutup celah kemungkinan untuk memecah belah pasukan apabila dipimpin oleh banyak pimpinan. Pada hari pertama perang, pasukan dipimpin oleh Khalid. Hari-hari berikutnya Panglima yang lain bergiliran menjadi pimpinan pasukan.
Tidak diragukan lagi, Khalid memiliki kemampuan dan pengalaman dalam mengatur strategi perang. Ia memenangi banyak perang di Jazirah Arab dan berpengalaman menghadapi negara-negara besar. Kemampuannya mengeluarkan pasukan dari keadaan kritis juga luar biasa dan strategi perangnya selalu menghasilkan kemenangan. Khalid mulai membagi pasukan Arab muslim menjadi 46 batalyon. Setiap bataliyon terdiri dari 1000 pasukan dan dipimpin seseorang yang tangguh di antara mereka. Kemudian ia mengelompokkan pasukan-pasukan itu di jantung pasukan, sayap kanan, dan sayap kiri.
Jantung pasukan terdiri dari 15 batalyon di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Pasukan sayap kanan juga terdiri dari 15 batalyon yang dipimpin oleh Amr bin al-Ash dan Syurahbil bin Hasnah sebagai wakilnya. Demikian juga pasukan sayap kiri terdiri dari 15 batalyon yang dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan. Satu batalyon lainnya berada di garis belakang sebagai pasukan cadangan. Batalyon ini diizinkan bergerak bebas, tergantung kondisi perang. Pimpinan batalyon terakhir ini adalah Ikrimah bin Abi Jahl. Sementara Khalid bin al-Walid berada di jantung pasukan, memimpin mereka semua dari posisi pusat kekuatan pasukan. Setelah pasukan tertata rapi, ia memimpin dan menyemangati mereka untuk berjihad dan bersabar dalam menghadapi musuh.
Khalid menyusun rencana (strategi), memerintahkan pasukannya menunggu Romawi terlebih dahulu yang memulai peperangan. Ketika kuda-kuda mereka sudah menyerang garis depan pasukan muslim, Khalid instruksikan agar pasukan tetap membiarkan mereka leluasa hingga masuk jauh ke dalam sampai garis belakang pasukan diarahkan menuju killing ground. Di belakang, mereka akan disergap pasukan kavaleri (pasukan berkuda) kaum muslimin. Keadaan itu akan memecah pasukan infanteri Romawi dan kavalerinya. Kaum muslimin pun bisa dengan mudah menghancurkan infanteri Romawi.
Khalid memilih taktik defensif karena di belakang mereka ada Kota Madinah yang harus dilindungi. Sedangkan orang-orang Romawi lebih memilih menyerang dahulu karena mereka berada di Lembah Yarmuk yang dikelilingi oleh tiga bukit. Ketika orang-orang Romawi sampai di tempat itu (daerah killing ground), kaum muslimin menyeberangi sungai hingga berada di sisi kanannya. Pasukan Romawi dikepung dari bukit sementara di hadapan mereka ada pasukan kaum muslimin.
Saat fajar hari tanggal 28 Jumadil Ula 13 H mulailah kaum muslimin melakukan perang urat syaraf dengan memprovokasi Romawi. Saat pasukan berkuda Romawi memasuki garis depan pasukan muslim, Khalid telah menyiapkan pasukan berkuda untuk menghadapi mereka. Keadaan berjalan sesuai rencana pasukan Romawi dapat dihancurkan pasukan muslim. Pasukan Romawi kocar-kacir, ada yang menuju sungai dan ada pula yang memasuki jurang-jurang. Mereka kian terpojok dan banyak yang tewas terbunuh.
Sedangkan pasukan infanteri Romawi berada dalam keadaan terikat. Tujuannya agar tdak melarikan diri dari perang, pemimpin mereka merantai pasukan pejalan kaki ini. Satu rantai 10 orang. Rantai itu membuat mereka sulit bergerak. Terlebih saat salah seorang dari mereka terluka atau tewas (tidak dinamis). Perang berlangsung selama satu hari. Theodoric kabur dan akhirnya tewas terjerembab ke dalam jurang. Kerugian pasukan Khalid pada perang ini sekitar 3000 pasukan sedangkan kerugian Romawi adalah 8000 orang.
c.
Pengaruh terhadap taktik dan strategi perang
Dari
pengalaman pertempuran Yarmuk berpengaruh terhadap taktik dan strategi perang
setelahnya. Bahkan pada perang konvensional modern saat ini taktik dan strategi
tersebut secara aktual dapat diterapkan
sebagai berikut :
1) Bahwa dalam peperangan dibutuhkan Pemimpin yang hebat dan
memiliki pengaruh besar bagi pasukannya. Hal ini menjadi modal penting, bukan
hanya pasukannya yang kuat tetapi faktor Pemimpin (Panglima Perang) sangat
dominan dalam menentukan taktik dan strategi dalam menghadapi musuh di medan
pertempuran.
2) Pentingnya mengetahui dan mempelajari kekuatan musuh untuk
menentukan dan memperkirakan seberapa kekuatan yang akan dikerahkan, serta
dapat mengukur seberapa besar tingkat keberhasilannya.
3) Melakukan reorganisasi kekuatan pasukan perang dengan baik serta
melakukan kalkulasi segala kebutuhan dan sumberdaya perang yang dibutuhkan
secara cermat.
4) Penguasaan terhadap medan pertempuran termasuk medan kritik
untuk menempatkan pasukan dan mengarahkan musuh pada keadaan yang sulit dan
lemah dalam killing groud untuk dihancurkan.
5) Kerahasiaan dan pendadakan sangat menentukan keberhasilan
peperangan dengan menggunakan taktik dan gerakan-gerakan yang tidak
diperkirakan oleh musuh sebelumnya. Kerahasiaan akan mencegah musuh untuk
antisipatif dan mengurangi kesiapsiagaan dalam menghadapi peperangan.
6) Diperlukan rencana dukungan logistik yang baik untuk mendukung
pasukan pada peperangan. Tanpa dukungan logistik yang cukup kecil kemungkinan
peperangan dapat berhasil.
7) Efisiensi diperlukan untuk penghematan sumber daya perang baik
itu logistik, pasukan maupun waktu jalannya peperangan. Semakin lama jalannya
peperangan maka biaya akan semakin mahal dan sumber daya banyak yang terbuang.
8) Membangkitkan motivasi perang kepada prajurit sangat penting.
Keberhasilan peperangan dalam meraih kemenangan adalah hasil kemauan yang
tinggi (gigih) dari prajurit untuk berperang.
9) Satu Komando dalam pengerahan terhadap pasukan untuk mencegah
terjadinya tumpang tindih dan duplikasi perintah dalam peperangan. Diperlukan
juga untuk mempermudah pengendalian dan koordinasi antara berbagai kekuatan
pasukan yang disatupadukan dalam peperangan.
10) Kemampuan dan pengalaman pasukan dalam berperang sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan mencapai kemenangan. Kemampuan pasukan
tergantung seberapa baik dalam penempaan latihan yang diterimanya.
11) Pasukan cadangan diperlukan untuk mendukung dan memperkuat
pasukan yang berada di depan serta mempertebal pertahanan sehingga sulit untuk
ditembus pasukan musuh.
12) Komando berada di pusat kekuatan pasukan (center of gravity)
untuk memudahkan pengendalian dan koordinasi antar pasukan.
13) Menyusun rencana taktik dan strategi dengan matang dan cermat
dihadapkan dengan manuver pasukan musuh. Taktik dan strategi perang yang tepat
dan lebih unggul dari dari taktik dan strategi musuh akan membawa kemenangan
meskipun dengan pasukan yang lebih kecil jumlahnya.
14) Mengarahkan musuh pada killing ground atau daerah yang
dipersiapkan yang memberikan keuntungan bagi pasukan sendiri dan keterbatasan
bagi pasukan musuh dengan memanfaatkan aspek medan yang telah dikuasai untuk
mengancurkan musuh.
15) Memecah kekuatan musuh dengan melakukan penyekatan dan membuka
front lebih dari satu sehingga konsentrasi musuh terpecah yang akan melemahkan
pertahanannya.
16) Melakukan perang urat syaraf berupa propaganda, penyesatan dan
penipuan kepada musuh sehingga dapat mengalihkan perhatian dan kekuatannya pada
pertempuran yang bukan sebenarnya.
17) Taktik perang harus dinamis dan bekembang untuk dapat mengendalikan inisiatif dalam peperangan akan lebih berhasil dibandingkan dengan pasukan yang statis dan tidak memiliki inisiatif dalam melakukan penyerangan maupun pertahanan.
- PENUTUP
a.
Kesimpulan. Dari
uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perang Yarmuk dapat dijadikan
pelajaran dan mempengaruhi taktik dan strategi perang setelahnya, bahkan dalam
peperangan konvensional modern saat ini. Perang membutuhkan pengerahan segala
sumberdaya, taktik dan strategi yang dinamis, kepemimpinan yang handal,
pemusatan kekuatan, penguasaan medan dan semangat motivasi pasukan yang tinggi.
b.
Saran.
1)
Perlunya doktrin taktik perang yang dinamis
dan terus berkembang sesuai perkembangan taktik dan strategi musuh atau bakal
musuh.
2)
Perlunya penyiapan sumberdaya untuk perang
jauh sebelum kemungkinan perang akan terjadi.
3)
Perluanya penyiapan kemampuan pasukan perang
dengan berbagai bentuk latihan taktik dan strategi serta pengembangan alutsista
yang modern.
4)
Perlunya pengkaderan para Komandan/Pimpinan
yang handal dalam memimpin pasukan dalam peperangan yang akan berpengaruh untuk
mencapai kemenanagan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali
Muhammad Ash-Shalabi, 2013, Biografi Abu
Bakar Ash-Shiddiq Terj: Masturi Ilham, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
A. Syalabi, 1990, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilit I,
Pustaka Alhusna, Jakarta.
Ibnu
Katsir, 2004, Al-Bidayah Wan Nihayah Masa
Khulafaur Rasyidin, Terj: Abu Ihsan al-Atsari, Darul Haq, Jakarta.
Muhammad Husain Haekal, 2013, Abu Bakar As-Shiddiq, Terj: AliAudah, Pustaka Litera, Bogor.

Komentar
Posting Komentar